Assalamualaikum
Siapa yang tidak kenal dengan olahraga futsal. Saya yakin semua orang pasti tau. Anak kecil kampung sebelah, ibu-ibu PKK, bapak-bapak di warung kopi, gadis-gadis kecil yang lucu, gebetan, mantan dan kakek cangkul nenek dayung pun tau. Pokoknya semua pasti tau apa itu olahraga futsal. Pak Jokowi pun saya rasa dia tau. Hmm...
Ya, benar! Futsal itu olahraga yang dimaenin pake bola yang dipantul-pantulin ke muka mantan lalu dimasukin ke keranjang. Keranjang sampah!!! Ah, bukan. Lupa saya. Futsal itu olahraga yang maennya kayak maen sepakbola. Tapi bedanya, futsal hanya dimainkan oleh 5 orang dalam satu tim. Lapangannya lebih kecil dari lapangan sepakbola. Di futsal tidak ada peraturan offside, dan futsalpun bisa dimaenin oleh pria berkacamata.
Saya ingat saat pertama kali main futsal. Waktu itu alay masih merajalela. Kalau tidak salah ketika photo profil orang-orang masih pakai gaya bibir dimonyong-monyongin.
Adalah Deni Salas, yang pertama kali ngajakin saya bermain futsal. Iya, si Deni yang suka ngasih quotes-quotes itu.
Pada suatu siang di kelas Matematika, dengan wajah yang kurang tampan dan bibir yang pucat karena belum makan si Deni bilang kepada saya
"Bro, nanti sore ada waktu luang ga?"
Saya yang sedang fokus ngerjakan tugas perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku yang diberikan guru langsung kejang-kejang mendengar suara si Deni. Saya tidak percaya suara si deni mirip suara mak lampir di film-film horor. Dengan nada ketakutan saya menjawab
"Aaaaa.. Setan!! Pergi kau!! Pergi kau setan...!"
Tapi gak jadi.
"Ada bro! Saya tiap sore kosong. Kan jomblo?!" Kata saya.
"Kasihan kamu ya. Nanti sore main futsal yuk..." Timpalnya dengan suara khas mak lampir.
FYI, si Deni ini sering main futsal sama teman-temannya yang lain. Sangat sering malahan. Dia punya banyak link pertemanan. Melihat dari wujudnya mungkin kita tidak menyangka kalau dia punya banyak teman. Tapi begitulah si Deni. Dia pintar nyari teman dan mudah bergaul. Mulai dari anak bola, anak futsal, anak motor, sampai anak BMX dia kenal semua.
"Wah, oke bro!!! Saya mau..!" Jawab saya tanpa ragu dan memeluknya.
"Tapi kita harus ngumpulin orang dulu. 10 orang aja cukup.. Kamu punya teman kan?" Timpal si Deni lagi.
Teman?! Teman yang mana?! Saya mikir keras. Teman saya ga ada yang di kampung. Mereka merantau semua. Yang tinggal cuma beberapa orang saja. Mereka pun kalau diajak, syukur-syukur kalau mau.
"Ada sih, tapi ga berapa.." Kata saya
"Ya udah, ajak mereka aja... Sepulang sekolah pastiin siapa-siapa yang akan main!" Kata si Deni seraya pergi tanpa tersenyum.
"??" Saya cuma bisa melongo.
Setelah obrolan itu, saya tidak mau lagi mengerjakan tugas Matematika. Segera saya mengeluarkan hp dari dalam kolor dan mencari nama-nama teman di daftar kontak yang bisa saya ajak maen, lalu mengirimnya SMS.
*Cikuprak...!!* (SMS terkirim).
***
Singkat cerita, bel pulang sekolah telah berbunyi. Saya menghampiri si Deni untuk pulang bareng.
"Bro, yang bisa main cuma 4 orang. Gimana nih?" Tanya saya ke si Deni.
"Berarti baru 6 orang. Ane, ente, dan teman-teman ente.. Nanti kita 3 on 3 aja.." Jawab si Deni yang sepertinya tidak normal lagi karena kelaparan.
"Lah, mana asik. Masa main futsal 3 lawan 3? Kamu cari tambahan kek. Saya kan udah usaha buat ngumpulin teman.." Saya berusaha membujuk.
Bukan Deni namanya kalau tidak bisa ngumpulin teman.
Kemudian langkah si Deni terhenti.
*Criinnggg..!!* (Tiba-tiba bola lampu di kepalanya menyala)
"Bagaimana kalau kita ajak anak kampung sebelah aja? Saya kenal mereka.. Sekalian aja kita sparing sama mereka.."
"What?!! Sparing!! Tapi kita kan ga ada pemain??"
"Ah cemen.. Udah, gak apa-apa"
"Baiklah Deni. Kalau itu mau kamu.." Saya menurut.
"Nanti jemput saya ke rumah, ya Den.." Tambah saya.
Brukkk!! Si Deni rebah di tanah.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Itu artinya kami akan maen futsal. Teman-teman udah pada ngumpul di rumah saya. Ada si Ajay, Bang Roni, Juned, dan Faisal. Tinggal si Deni yang belum datang.
Tak lama berselang, sesosok tubuh yang tidak terlalu tinggi dan kurus datang dengan mengendarai motor Sup*a-X KW China. Ya, itu si Deni. Akhirnya saya lega. Berarti kami jadi juga futsalan sore ini. Teman-teman bersorak kegirangan. Yeeay!
"Ayok berangkat, kita maennya jam 5. Lapangan udah saya boking. Sekalian nunggu lawan.." Kata si Deni dengan nada berat, mirip Cakhra Khan. (Gak kayak suara mak lampir lagi)
"Yoyooooii.." Kami menjawab serentak.
***
Ini merupakan futsalan pertama saya. Baru pertama, udah langsung sparing. Saya cemas. Teman-teman saya cemas. Si Deni tegang. Sepatu udah terpasang. Segera kami masuk ke lapangan untuk pemanasan sembari menunggu lawan, anak kampung sebelah.
Lawan yang ditunggu pun datang. Teman-teman si Deni. Tampang mereka sangar-sangar semua, kayak tahanan perang. Saya makin cemas. Muka saya pucat. Bang Roni langsung sholat sunah di lapangan.
Si Deni bersalaman sama calon lawan alias teman-temannya. Seperti anak hip hop saja mereka salaman.
"Kita langsung main aja Den.." Kata salah seorang dari tahanan perang tersebut.
"Oke, ayo..!" Sahut si Deni.
"Tapi mainnya gimana dulu nih? Seperti biasa? Yang kalah bayar lapangan??" Tambahnya.
"Ya. Oke." Kata si Deni lagi.
Saya yang mendengar percakapan itu menjadi panik. Begitu juga dengan teman-teman lainnya. Main taruhan ternyata bro! Kalau kalah gimana. Saya mulai ragu.
"Den, kita mainnya taruhan??" Saya menghampiri si Deni.
"Iya, gak apa-apa bro.. Biar lebih seru.." Jawabnya.
"Kalau kalah gimana?"
"Ya, kita bayar lapangan.." Jawab si Deni santai.
Rasanya saat itu saya ingin memutilasi si Deni. Tapi bagaimana lagi. Daripada ga jadi main. Teman-teman pun pada setuju. Dan akhirnya sparing pun dimulai.
Formasi yang kami pakai saat itu : 2-1-1
GK : Faisal
CB : Ajay
CB : Bang Roni
CMF : Riki
ST : Deni
Cadangan : Juned
*lumayan* hehe
"Priiiiiittttt..." Wasit dadakan membunyikan peluit pertanda babak pertama dimulai. (wasitnya pemilik lapangan. Kami minta tolong ke dia untuk diwasitin)
Di awal babak pertama mainnya masih selow-selow aja. Kami yang hanya bermodalkan skil standar yang didapat saat masih main di lapangan kosong dekat rumah Bang Roni waktu kecil dapat mengimbangi permainan lawan yang skillnya juga tidak tinggi-tinggi amat.
Jual beli serangan terjadi sepanjang babak pertama ini. Para pemain bergantian mencetak gol. Diluar perkiraan, ternyata lawan yang tampangnya mirip tahanan perang itu ga jago-jago amat. HA..! HA..! HA..! Saya senang.
Memasuki pertengahan babak pertama, tiba-tiba keadaan berubah. Para tahanan perang ini mainnya berubah drastis. Skillnya yang tadi biasa-biasa aja kini berubah menjadi skill dewa. Mereka semakin semangat. Sementara kami semakin lemas. Karena fisik yang tidak begitu profesional. Kami semakin banyak kebobolan. Rasanya waktu itu saya mau kabur saja. Tapi takut, nanti saya dikeroyok rame-rame.
Akhirnya babak pertama yang dimainkan selama 30 menit itu berakhir. (Setau saya di peraturan resminya, satu babak cuma 20 menit)
Skor 3-7. Kami kalah...
Priiiiitttt... Babak ke dua pun dimulai. Dengan fisik yang sudah tidak relevan lagi untuk melayani para tahanan perang ini kami terus berjuang. Bang Roni, Ajay, Juned dan saya saling bergantian untuk bermain. Cuma si Deni yang ga di ganti-ganti. Karena fisiknya sedikit agak profesional. (Cieellaah Deniii. Waang lai)
Lawan terus menggempur daerah pertahanan kami. Beruntung kami selalu bisa menahan gempuran tersebut. Kadang mereka lengah. Yang dimanfaatkan si Deni untuk mencetak gol. Entah berapa sudah si Deni mencetak gol.
Priiiittt Prriiitttt Prriiiiiiiiiiitt... Babak kedua telah berakhir. Meski si Deni banyak mencetak gol, (saya cuma 2 kalau ga salah) tetap aja kami kalah 7-13. Kekalahan yang mencolok memang. Tapi awal yang bagus buat pemula seperti kami.
Dengan kekalahan ini, tentu saja kami membayar lapangan. Untung saja di dalam dompet ada uang lebih. Jadi kami tidak perlu berhutang.
Setelah bersalam-salaman, mereka, a.k.a tahanan perang pamit pulang. Wajah mereka cerah berseri-seri dibalut tawa yang lebar. Selebar lapangan futsal. Yang tentunya membuat kami kesal. Tidak apa-apa, suatu saat kami akan membalas kekalahan ini.
Setelah beristirahat sebentar kami membayar tagihan lapangan futsal. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Itu artinya kami harus pulang untuk siap-siap sholat maghrib.
Diperjalanan pulang kami mengobrol tentang pengalaman pertama bermain futsal. Motor yang kami kendari memenuhi jalan raya. Kami tidak peduli, rasanya dunia ini punya kami. Karena baru pertama kali futsalan. Meskipun kalah kami tetap tertawa. Norak sekali gaya kami.
***
Ya, itulah pengalaman pertama saya bermain futsal. Meskipun tak semuanya bisa diceritakan, tapi pengalaman itu masih teringat sampai sekarang. Hingga bisa dituangkan di dalam postingan ini.
Sebelum mengakhiri postingan ini, ada pelajaran yang dapat saya ambil dari pengalaman tersebut. Bahwa kekalahan adalah bagian dari permainan. Kekalahan mengajarkan kita untuk menghargai setiap usaha. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Ingat ini, sehebat apapun Manchester United mereka pasti kalah juga.
"Setiap kekalahan adalah langkah untuk menuju kemenangan" -- Deni Salas.